saat jiwa terenggut dari raga kita

November 18th, 2005 by cariaku

SUARA YANG DIDENGAR SANG MAYAT

Yang Akan Ikut Mayat ke Tempat Pemakaman ada
tiga hal yaitu:

1. Keluarga & Kerabat

2. Hartanya

3. Amalnya

 

Ada Dua Yang Kembali Dan Satu akan Tinggal
Bersamanya yaitu:

1. Keluarga dan Hartanya Akan Kembali

2. Sementara Amalnya Akan Tinggal Bersamanya.

 

Ketika Roh Meninggalkan Jasad…Terdengarlah
Suara Dari Langit Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan..

· Apakah Kau Yang Telah Meninggalkan Dunia, Atau Dunia Yang Meninggalkanmu

· Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Harta Kekayaan, Atau Kekayaan Yang Telah
Menumpukmu

· Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Dunia, Atau Dunia Yang Telah Menumpukmu

· Apakah Kau Yang Telah Mengubur Dunia, Atau Dunia Yang Telah
Menguburmu."

 

Ketika Mayat Tergeletak Akan
Dimandikan….Terdengar Dari Langit Suara Memekik, "Wahai Fulan Anak Si
Fulan…

· Mana Badanmu Yang Dahulunya Kuat, Mengapa Kini Terkulai Lemah · Mana Lisanmu Yang Dahulunya Fasih,
Mengapa Kini Bungkam Tak Bersuara

· Mana Telingamu Yang Dahulunya Mendengar, Mengapa Kini Tuli Dari Seribu
Bahasa

· Mana Sahabat-Sahabatmu Yang Dahulunya Setia, Mengapa Kini Raib Tak
Bersuara"

 

Ketika Mayat Siap Dikafan…Suara Dari Langit
Terdengar Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan

· Berbahagialah Apabila Kau Bersahabat Dengan Ridha

· Celakalah Apabila Kau Bersahabat Dengan Murka Allah

 

Wahai Fulan Anak Si Fulan…

· Kini Kau Tengah Berada Dalam Sebuah Perjalanan Nun Jauh Tanpa Bekal

· Kau Telah Keluar Dari Rumahmu Dan Tidak Akan Kembali Selamanya · Kini Kau Tengah Safar Pada Sebuah
Tujuan Yang Penuh Pertanyaan."

 

Ketika Mayat Diusung…. Terdengar Dari Langit
Suara Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan..

· Berbahagialah Apabila Amalmu Adalah Kebajikan

· Berbahagialah Apabila Matimu Diawali Tobat

· Berbahagialah Apabila Hidupmu Penuh Dengan Taat."

 

Ketika Mayat Siap Dishalatkan….Terdengar
Dari Langit Suara Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan..

· Setiap Pekerjaan Yang Kau Lakukan Kelak Kau Lihat Hasilnya Di Akhirat

· Apabila Baik Maka Kau Akan Melihatnya Baik

· Apabila Buruk, Kau Akan Melihatnya Buruk."

 

Ketika Mayat Dibaringkan Di Liang
Lahat….terdengar Suara Memekik Dari Langit, "Wahai Fulan Anak Si
Fulan…

· Apa Yang Telah Kau Siapkan Dari Rumahmu Yang Luas Di Dunia Untuk
Kehidupan Yang Penuh Gelap Gelita Di Sini

 

Wahai Fulan Anak Si Fulan…

· Dahulu Kau Tertawa, Kini Dalam Perutku Kau Menangis

· Dahulu Kau Bergembira, Kini Dalam Perutku Kau Berduka

· Dahulu Kau Bertutur Kata, Kini Dalam Perutku Kau Bungkam Seribu
Bahasa."

Ketika Semua Manusia Meninggalkannya
Sendirian….Allah Berkata Kepadanya, "Wahai Hamba-Ku…..

· Kini Kau Tinggal Seorang Diri

· Tiada Teman Dan Tiada Kerabat

· Di Sebuah Tempat Kecil, Sempit Dan Gelap..

· Mereka Pergi Meninggalkanmu.. Seorang Diri

· Padahal, Karena Mereka Kau Pernah Langgar Perintahku

· Hari Ini,….

· Akan Kutunjukan Kepadamu

· Kasih Sayang-Ku

· Yang Akan Takjub Seisi Alam

· Aku Akan Menyayangimu

· Lebih Dari Kasih Sayang Seorang Ibu Pada Anaknya".

Kepada Jiwa-Jiwa Yang Tenang Allah Berfirman,
"Wahai Jiwa Yang Tenang

· Kembalilah Kepada Tuhanmu

· Dengan Hati Yang Puas Lagi Diridhai-Nya

· Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah Hamba-Hamba-Ku

· Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku"

Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk
senantiasa mengingat mati (maut) dan dalam sebuah hadithnya yang lain, belau
bersabda "wakafa bi almauti wa’idha", artinya, cukuplah mati itu akan
menjadi pelajaran bagimu.

Semoga bermanfaat bagi kita semua, Amiin….

Bahan Renungan Untuk Anda, Sahabatku, yang
mungkin terlalu sibuk bekerja… Luangkanlah waktu sejenak untuk membaca dan
merenungkan pesan ini…

Aktifitas keseharian kita selalu mencuri
konsentrasi kita. Kita seolah lupa dengan sesuatu yang kita tak pernah tahu
bila kedatangannya. Sesuatu yang bagi sebagian orang sangat menakutkan. Tahukah
kita bila kematian akan menjemput kita???

Semangkuk Mie

October 25th, 2005 by cariaku

Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tdk membawa uang.

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tdk mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata "Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?" " Ya, tetapi, aku tdk membawa uang" jawab Ana dengan malu-malu

"Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu" jawab si pemilik kedai. "Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu".

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang. "Ada apa nona?" Tanya si pemilik kedai. "tidak apa-apa" aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.

"Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi !, tetapi,? ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah". "Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri" katanya kepada pemilik kedai. Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata "Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya"

Ana, terhenyak mendengar hal tsb. "Mengapa aku tdk berpikir ttg hal tsb? Utk semangkuk bakmi dr org yg baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.

Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg hrs
diucapkan kpd ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah "Ana kau sudah pulang, cepat
masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tdk memakannya sekarang". Pada
saat itu Ana tdk dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kpd org lain disekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kpd org yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.

RENUNGAN:

BAGAIMANAPUN KITA TIDAK BOLEH MELUPAKAN JASA ORANG TUA KITA. SERINGKALI KITA MENGANGGAP PENGORBANAN MEREKA MERUPAKAN SUATU PROSES ALAMI YANG BIASA
SAJA; TETAPI KASIH DAN KEPEDULIAN ORANG TUA KITA ADALAH HADIAH PALING BERHARGA YANG DIBERIKAN KEPADA KITA SEJAK KITA LAHIR. PIKIRKANLAH HAL ITU?? APAKAH KITA MAU MENGHARGAI PENGORBANAN TANPA SYARAT DARI ORANG TUA KITA?
Renungkanlah……….

Pemerasan gaya baru !!

October 25th, 2005 by cariaku


Bila anda ditilang oleh polisi lalulintas, biarkan saja dan terimalah
surat tilang dengan lapang dada, walau pada saat itu anda menggerutu
bahwa polisi telah mengada-ngada menuduh anda menerobos lampu merah
atau kesalahan lain.
Dan jangan sekali kali anda mengeluarkan uang untuk damai.

Saat ini telah beredar isu bahwa Polantas (polisi lalu lintas)
memasang perangkap dengan dalih penyuapan.
Hal ini terjadi pada teman saya, sebut saja Andi.
Andi dan teman-teman semua dalam mobil Kijang sedang melaju menuju ke
salah satu mal , namun tiba2 saja lampu lalulintas warna kuning sudah
menyala di depan mata.

Andi berpikir untuk tidak me rem mendadak sebab akan menyebabkan
tabrakan beruntun dengan mobil yang di belakang.
Maka diputuskan untuk menerobos lampu merah, tapi….tiba2
priiiiittt…….salah satu polisi lalu lintas telah berada di depan
memberi tanda untuk menepi.

Setelah memberi salam, polisi lalu meminta Andy untuk memperlihatkan
STNK dan SIM sambil menjelaskan kesalahan Andi, yang sudah pasti itu
tadi………menerobos lampu merah.
Saat polisi mengeluarkan surat tilang, dengan spontan Andy yang memang
merasa bersalah itu mengeluarkan beberapa lembar uang dan
menyelipkannya ke tangan pak Polisi untuk berdamai di tempat, selesai ?

Belum…. Tiba2 saja dari belakang Andi muncul pak polisi yang lain
dgn memegang tangan Andi yang sdg memegang uang sambil
menghardik…………apa ini ………….anda saya tangkap dengan
tuduhan telah menyuap petugas ,

Haaah……? Andy terhenyak dan bengong tanpa bisa berbuat sesuatu ,
dan bagai kerbau yang dicolok hidungnya Andy digiring ke kantor polisi
setempat dan dimasukkan ke sel.

Apa ??? Sel? hanya utk kesalahan kecil karena menerobos lampu merah
saja??…
Ya….sel alias bui.

Terakhir Andi dikeluarkan oleh keluarganya dan dilepas dari kantor
polisi setelah membayar uang denda yang berkisar jutaan rupiah.

Jaman telah edan, pemerintah yang sedang giat-giatnya menggalakkan
clean goverment alias petugas/pejabat anti korupsi telah
disalahgunakan oleh oknum untuk memeras masyarakat awam dengan dalih
menyogok petugas.

Hati hatilah dalam berkendara, perhatikan lampu lalulintas dan tetap
waspada, jangan lengah dan jangan pernah mau damai di jalanan dengan
polisi lagi.

Sampaikan kepada sanak saudara, family dan teman anda semua , semoga
bermanfaat ……..

BERUNTUNGLAH PARA PEROKOK… ;p

October 25th, 2005 by cariaku

Berbahagialah bagi para perokok.. .. pada kondisi tertentu sebaiknya Anda merokok saja, di lain kondisi dianjurkan tidak ;

1. Perokok pasif lebih berbahaya daripada perokok aktif, maka untuk mengurangi resiko tersebut aktiflah merokok.

2. Menghindarkan dari perbuatan jahat karena tidak pernah ditemui orang yang membunuh,mencuri dan berkelahi sambil merokok.

3. Mengurangi resiko kematian; dalam berita tidak pernah ditemui orang yang meninggal dalam posisi merokok.

4. Berbuat amal kebaikan; kalau ada orang yang mau pinjam korek api paling tidak sudah siap / tidak mengecewakan orang yang ingin meminjam.

5. Baik untuk basa-basi / keakraban; Kalau ketemu orang misalnya di Halte kita bisa tawarkan rokok. Kalau basa-basinya tawarkan uang kan nggak lucu.

bingung

October 19th, 2005 by cariaku

aduh nulis apa yah??lg bingung nih..hbs skt kmrn, puasa jebol  hari..ijin gawe 2 hari, tapi cuaca lg kgk bsahabat..jd bingung gw!!balik kgk yah???nanggung geh..

HUAAAAA…..HAHAHAHAHA…

July 27th, 2005 by cariaku

Gw ketawa ma nangis..soalna yg satu gen ma gw nambah lg yg pk kacamatanya…hehhehe….sedih krn gw lg meriang..amandel gw kumatzzz…..obaaaattttttzzzzzzzzz……..g sbr pgn ke jkt lg nehhh….

LAGI-LAGI KEJADIAN di TAKSI NIY…

June 20th, 2005 by cariaku
Peringatan
ini terutama ditujukan untuk para karyawati yang lembur dan pulang
larut malem dengan menggunakan taxi. Kejadian ini baru saja terjadi,
jadi saya peringatkan berhati-hatilah buat kamu-kamu yang kerja di
lokasi Mega Kuningan, Jakarta. Setidaknya cerita ini bisa menjadi
pelajaran bagi kamu semua agar tidak terjadi pada kamu. Kamu pernah
enggak melintas di lapangan bunderan Mega Kuningan? Nah, kalau belum
simak baik-baik ya kejadian ini, karena benar benar terjadi baru-baru
ini.

Seorang karyawati setelah kecapaian bekerja hingga
larut malam di depan menara Rajawali, menyetop sebuah taksi yang
meluncur melalui lapangan Mega Kuningan tersebut. Waktu ketika itu
menunjukkan pukul 10.00 malam dan karyawati tersebut langsung duduk di
kursi belakang taksi sambil menyebutkan daerah Pasar Minggu sebagai
tujuannya kepada sopir taksi tersebut. Karena sudah kecapaian si
karyawati tersebut langsung tertidur,
tapi tidak berapa lama kemudian si karyawati merasakan taksi tersebut
berjalan makin lama makin lambat. Karena dia merasa ada yang enggak
beres, si karyawati tersebut terbangun.. dan apa yang terjadi sungguh
mengejutkan…..

 


Ternyata waktu si karyawati itu
melihat ke depan.. sopir taksi tersebut sudah tidak ada.. yang ada
hanya bangku kosong dan suasana yang sepi karena malam hari, namun
taksi tersebut tetap berjalan meskipun lambat sekali dan secara reflek
menjeritlah si karyawati itu kuat-kuat, dan tiba tiba.. dari balik kaca
jendela taksi dimana si karyawati tersebut duduk tersebut muncullah..
kepala si sopir taksi…
 
Sopir itu mengatakan, "Mbak, tolong mbak, jangan tidur aja.. ini mobilnya mogok, bantuin dorong dong…..!!"

HEHEHE……

Wawancara Ridwan Saidi : Melacak Zionis di Indonesia

June 20th, 2005 by cariaku

Wawancara Ridwan Saidi : Melacak Zionis di Indonesia

Zionis-Yahudi mengakar kuat di Indonesia. Melalui antek-anteknya yang ada di
Indonesia, mereka
berhasil menguasai sektor ekonomi, terutama bidang perbankan dan merasuki budaya
Indonesia.

Sejak mencuatnya kasus grup band Dewa yang diprotes lantaran menginjak-injak
karpet bermotif lafaz
Allah saat manggung di salah satu stasiun televisi, obrolan seputar Yahudi,
Zionis dan Freemasonry
makin rame. Apalagi, pentolan Dewa, Ahmad Dhani, selama ini kerap dijumpai
mengenakan kalung
Bintang David, simbol Zionis-Israel.

Untuk mengetahui lebih dalam jaringan kaum yang dikutuk Allah SWT itu, berbagai
kalangan menggelar
berbagai forum diskusi dan dialog tentang Zionis-Yahudi. Selasa (31/5) lalu,
misalnya, Kajian
Islam Cibubur Pesantren Tinggi Husnayain, Pimpinan KH A Cholil Ridwan menggelar
sebuah diskusi
yang bertajuk "Bahaya Gerakan YAHUDI di Indonesia".

Ridwan Saidi, salah seorang pembicara dalam dialog itu, mengaku prihatin dengan
kondisi umat saat
ini. Sebab, banyak umat yang masih tidak percaya gerakan Zionis-Yahudi. Bahkan
sebagian kaum
Muslimin memandang tudingan gerakan Zionis-Yahudi sebagai sesuatu yang
mengada-ada. Padahal,
dampak dari gerakan Zionis ini sangatlah merugikan kaum Muslimin bahkan umat
manusia.

"Siapa bilang tidak ada gerakan Zionis-Yahudi di sini. Ada dong, sebab akarnya
terlalu kuat di
Indonesia. Mereka masuk sejak zaman Hindia Belanda," ujar pria yang puluhan
tahun meneliti dan
mengkaji gerakan Zionis-Yahudi itu.

Benarkah akar Zionis-Yahudi begitu kuat di Indonesia? Apa saja indikasi dan
buktinya? Memang, tak
mudah melacak jejak gerakan berbahaya ini di Indonesia. Apalagi selama ini,
Zionis-Yahudi, memang
gerakan tertutup.
Aktivitas mereka berkedok kegiatan sosial atau kemanusiaan. Namun sasaran dan
tujuannya sangat
jelas: Merusak kaum lain.

Ibarat orang yang sedang buang angin dengan pelan: tercium baunya, tapi tak
nampak wujudnya. Tidak
mudah mengendus dan mendeteksi mereka. Namun dengan membuka-buka catatan
sejarah, kabut dan
misteri seputar jaringan Zionis-Yahudi di Indonesia akan terbuka lebar.

Gedung dan bangunan ternyata tak hanya memiliki estetika, namun juga
menyimpan sejarah peradaban, tak terkecuali gerakan Zionis-Yahudi di
Indonesia. Dari sejumlah dokumen sejarah, tidak sedikit gedung-gedung yang
berdiri dan beroperasi
saat ini yang ternyata dulunya pernah menjadi pusat pengendali gerakan
Zionis-Yahudi di Indonesia.

Satu di antaranya adalah gedung induk yang saat ini dipakai pemerintah untuk
kantor Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) di Jalan Taman Suropati, Menteng,
Jakarta Pusat. Dalam
buku "Menteng Kota Taman Pertama di Indonesia" karangan Adolf Hueken, SJ,
disebutkan, awalnya
gedung yang kini berperan penting merencanakan pembangunan Indonesia itu adalah
bekas loge-gebouw,
tempat pertemuan para vrijmetselaar.

Loge-gebouw atau rumah arloji sendiri adalah sebuah sinagog, tempat
peribadatan kaum Yahudi. Dulu, kaum Yahudi memakainya untuk tempat
"sembahyang" atau "ngeningkan cipta" kepada Tuhan. Karena tempat itu sering
dipergunakan untuk
memanggil-manggil roh halus, maka masyarakat Indonesia sering menyebut loge
sebagai rumah setan.

Sementara Vrijmetselarij adalah organisasi bentukan Zionis-Yahudi di
Indonesia (Dulu Hindia Belanda). Ridwan Saidi dalam bukunya "Fakta dan Data
Yahudi di Indonesia"
menuliskan bahwa pimpinan Vrjmetselarij di Hindia Belanda sekaligus adalah ketua
loge.

Vrijmetselarij bukanlah organisasi yang berdiri sendiri. Ia merupakan bentukan
dari organisasi
Freemasonry, sebuah gerakan Zionis-Yahudi internasional yang berkedudukan di
London, Inggris. Pada
tahun 1717, para emigran Yahudi yang terlempar ke London, Inggris, mendirikan
sebuah gerakan
Zionis yang diberi nama Freemasonry. Organisasi inilah yang kini mengendalikan
gerakan
Zionis-Yahudi di seluruh dunia.

Dalam kenyataannya, gerakan rahasia Zionis-Yahudi ini selalu bekerja
menghancurkan kesejahteraan manusia, merusak kehidupan politik, ekonomi dan
sosial negara-negara
yang di tempatinya. Mereka ingin menjadi kaum yang menguasai dunia dengan cara
merusak bangsa
lain, khususnya kaum Muslimin.

Mereka sangat berpegang pada cita-cita. Tujuan akhir dari gerakan rahasia
Zionis-Yahudi ini, salah
satunya, adalah mengembalikan bangunan [b]Haikal Sulaiman yang terletak di
Masjidil Aqsha, daerah
Al-Quds yang sekarang dijajah Israel. Target lainnya, mendirikan sebuah
pemerintahan Zionis
internasional di Palestina, seperti terekam dari hasil pertemuan para rabbi
Yahudi di Basel.

Seperti disinggung di atas, gedung Bappenas memiliki sejarah kuat dengan gerakan
Zionis-Yahudi.
Tentu, bukan suatu kebetulan, jika lembaga donor dunia seperti International
Monetary Fund (IMF)
yang dikuasai orang-orang Yahudi sangat berkepentingan dan menginginkan
kebijakan yang
merencanakan pembangunan di Indonesia selaras dengan program mereka.

Satu per satu bukti kuatnya jejak Zionis-Yahudi di Indonesia bermunculan. Jejak
mereka juga nampak
di sepanjang Jalan Medan Merdeka Barat dengan berbagai gedung pencakar
langitnya. Menurut Ridwan
Saidi, semasa kolonial Belanda, Jalan Medan Merdeka Barat bernama Jalan
Blavatsky Boulevard. Nama
Blavatsky Boulevard sendiri tentu ada asal-usulnya. Pemerintah kolonial Belanda
mengambil nama
Blavatsky Boulevard dari nama Helena Blavatsky, seorang tokoh Zionis-Yahudi asal
Rusia yang giat
mendukung gerakan Freemasonry.

Siapa Blavatsky? Pada November 1875, pusat gerakan Zionis di Inggris,
Fremasonry, mengutus Madame
Blavatsky-demikian Helena Balavatsky biasa disebut-ke New York. Sesampainya di
sana, Blavatsky
langsung mendirikan perhimpunan kaum Theosofi. Sejak awal, organisasi
kepanjangan tangan
Zionis-Yahudi ini, telah menjadi mesin pendulang dolar bagi gerakan Freemasonry.

Di luar Amerika, sebut misalnya di Hindia Belanda, Blavatsky dikenal sebagai
propagandis utama
ajaran Theosofi. Pada tahun 1853, saat perjalanannya dari Tibet ke Inggris,
Madame Blavatsky
pernah mampir ke Jawa (Batavia). Selama satu tahun di Batavia, ia mengajarkan
Theosofi kepada para
elit kolonial dan masyarakat Hindia Belanda.

Sejak itu, Theosofi menjadi salah satu ajaran yang berkembang di Indonesia.
Salah satu ajaran
Theosofi yang utama adalah menganggap semua ajaran agama sama. Ajaran ini sangat
mirip dan
sebangun dengan pemahaman kaum liberal yang ada di Indonesia.

Menurut cerita Ridwan Saidi, di era tahun 1950-an, di Jalan Blavatsky Boulevard
(kini Jalan Medan
Merdeka Barat) pernah berdiri sebuah loge atau sinagog. Untuk misinya, kaum
Yahudi memakai loge
itu sebagai pusat kegiatan dan pengendalian gerakan Zionis di Indonesia. Salah
satu kegiatan
mereka adalah membuka kursus-kursus okultisme (pemanggilan makhluk-makhluk
halus).

"Jika saat ini saham mayoritas Indosat dikuasai Singtel, salah satu
perusahaan telekomunikasi Yahudi asal Singapura, maka itu sangat wajar. Sebab
dulunya Indosat
adalah sinagog dan kembali juga ke sinagog," ujar mantan anggota DPR yang pernah
menginjakkan
kakinya ke Israel tersebut.

Di sepanjang Jalan Juanda (Noordwijk) dan Jalan Veteran (Rijswijk) jejak
Zionis-Yahudi juga ada.
Dalam sebuah artikel di sebuah media massa yang terbit di Jakarta, sejarawan
Betawi Alwi Shahab
menyebutkan, pada abad ke-19 dan ke-20, sejumlah orang Yahudi menjadi pengusaha
papan atas di
Jakarta. Beberapa di antaranya bernama Olislaegar, Goldenberg dan Ezekie. Mereka
menjadi pedagang
sukses dan tangguh yang menjual permata, emas, intan, perak, arloji, kaca mata
dan berbagai
komoditas lainnya. Toko mereka berdiri
di sepanjang Jalan Risjwijk dan Noorwijk.

Masih menurut Alwi, pada tahun 1930-an dan 1940-an, jumlah orang Yahudi cukup
banyak di Jakarta.
Bisa mencapai ratusan orang. Mereka pandai berbahasa Arab, hingga sering dikira
sebagai orang
keturunan Arab. Bahkan Gubernur Jenderal Belanda, Residen dan Asisten Residen
Belanda di Indonesia
banyak yang keturunan Yahudi.

Yahudi di Batavia memiliki persatuan yang sangat kuat. Setiap hari Sabtu, hari
suci kaum Yahudi,
mereka sering berkumpul. Tempatnya di gedung yang kala itu terletak di sekitar
Mangga Besar,
Jakarta Barat. Di gedung itu, seorang rabbi, imam kaum Yahudi, memberikan
wejangan dengan membaca
Kitab Zabur.

"Merantau" sudah menjadi tradisi hidup kaum Zionis-Yahudi. Tidak ada daerah yang
tidak mereka
rambah. Di luar Jakarta, kaum Yahudi menetap di daerah Bandung, Jawa Barat.
Pengamat Yahudi asal
Bandung, HM Usep Romli mengatakan, mereka masuk Bandung sejak tahun 1900-an.
Untuk meredam
resistensi masyarakat Bandung, mereka masuk melalui jalur pendidikan dengan
berprofesi sebagai
guru. Kebanyakan dari mereka adalah pengikut aliran Theosofi, kaki tangan
gerakan Freemasonry
internasional. Tempat kumpul mereka berada di sebuah rumah yang terletak di
dekat Jalan Dipati
Ukur. Masyarakat menyebut
rumah itu sebagai rumah setan.

"Dulunya, kawasan Dipati Ukur adalah tempat tinggal orang-orang Belanda dan
tempat berkumpulnya
kaum terpelajar, baik dari Belanda maupun pribumi. Itulah kenapa jika ditengok
kawasan Dipati Ukur
saat ini, banyak sekali berdiri lembaga-lembaga pendidikan, termasuk Universitas
Padjajaran
(Unpad). Namun saya tidak tahu di mana tepatnya markas kaum Theosofi tersebut,"
ujar Usep.

Pada dasarnya, mereka tidak mengalami kesulitan menjajakan pemahamannya karena
berpenampilan
lembut, sopan dan ramah. Karenanya banyak masyarakat yang simpati dan tertarik
dengan mereka.
Sampai-sampai banyak masyarakat mengultuskan ucapan dan ajaran mereka, hingga
mengikuti ritual
agama Yahudi. "Tanpa disadari ajaran Zionis masuk ke hati dan pikiran masyarakat
Bandung dan
tumbuh menjadi suatu ajaran yang kuat," tandas Usep.

Khusus di Surabaya, kaum Yahudi membentuk komunitas sendiri di beberapa kawasan
kota lama, seperti
Bubutan dan Jalan Kayon. Di Jalan Kayon No 4, Surabaya, hingga kini berdiri
sebuah sinagog, tempat
peribadatan kaum Yahudi. Selama ini gerakan mereka tidak mudah terdeteksi
masyarakat karena mereka
berkedok yayasan sosial dan amal. (Baca: Kamuflase Kaum Yahudi di Surabaya).
Panah beracun Zionis-Yahudi terus dilepaskan dari busurnya dan terus
mengenai sasarannya. Setelah menunggu satu dekade, kini mereka sedang memanen
buahnya. Melalui
antek-anteknya di Indonesia, kaum Zionis-Yahudi "menyetir" dunia politik, sektor
ekonomi, terutama
bidang perbankan dan jaringan telekomunikasi.

Transaksi saham menjadi modal ampuh mengendalikan Indonesia. Singtel, perusahaan
telekomunikasi
milik orang Yahudi yang berkedudukan di Singapura misalnya, tahun lalu, berhasil
menguasai
kepemilikan PT Indosat, sebagaimana diungkapkan Ridwan Saidi . Mereka berhasil
menjadi pemegang
saham terbesar dan berhak mengatur arah policy Indosat ke depan. Komunikasi
Indonesia, melalui
Indosat misalnya, dalam kendali Yahudi?

Hal serupa terjadi dalam dunia pemberitaan. Bhakti Investama, sebuah
perusahaan yang sebagian sahamnya milik George Soros, seorang Yahudi yang pada
tahun 1998
mengacak-acak ekonomi Indonesia. Dengan membeli saham, dia mulai memasuki
industri media di
Indonesia Ritel juga menjadi sasaran utama mereka. Philip Morris, sebuah
perusahaan rokok dunia
milik seorang Yahudi asal Amerika menguasai kira-kira sembilan puluh persen
saham perusahaan rokok
PT Sampoerna. Ia pun berhak mengendalikan bisnis perusahaan rokok ternama di
Indonesia itu.

Bidang budaya tak luput dari garapan mereka. Untuk menjauhkan Islam dari
agamanya, mereka masuk ke
dalam kebatinan Jawa. Kuatnya akar Freemasonry dapat dilihat dari mantra-mantra
memanggil roh
halus atau jin yang memakai bahasa Ibrani, bahasa khas kaum Yahudi.

Bau Zionis-Yahudi juga tercium tajam di dunia perjudian. Dadu yang sering
dipakai dalam permainan
judi bermata hewan Zionis. "Ini fakta. Oleh sebab itu saat menerima laporan dari
bawahannya
tentang kuatnya akar Zionisme-Yahudi di Indonesia, Hitler, pemimpin NAZI
langsung mengirim
pasukannya ke Hindia Belanda untuk memerangi mereka," ujar Ridwan.

Jelas, gerakan Zionis-Yahudi bukanlah gerakan fiktif atau mengada-ada. Ia
benar-benar nyata dan
terus akan bergerak sampai cita-citanya tercapai:
Menguasai dunia. Oleh sebab itu, kaum Muslimin harus terus memperkuat diri
dengan Islam. Tidak
boleh lengah atau lalai sedikit pun. Tetap waspada, jangan mudah termakan dengan
pikiran atau
paham bebas, dan rapatkan barisan, adalah modal kuat melawan mereka. Dan, tak
kalah pentingnya,
adalah memperkuat dan mengembangkan jaringan dan gerakan yang sedang kita
bangun!
(Sabili)

Rivai Hutapea

Firman Allah Ta’ala (artinya):

June 17th, 2005 by cariaku

Firman Allah Ta’ala (artinya):

"Mereka (orang-orang munafik) mengatakan: ‘Andaikata kita memiliki sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya (kita tidak akan terkalahkan dan) tidak akan ada yang terbunuh di antara kita di sini (maksudnya: dalam perang Uhud)’. Katakanlah: ‘Kalaupun kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji (keimanan) yang ada dalam dadamu dan untuk membuktikan (niat) yang ada dalam hatimu. Dan Allah Maha Mengetahui isi segala hati." (Ali Imran: 154)

"Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: ‘Andaikata mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh.’ Katakanlah: ‘Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar’." (Ali Imran: 168)

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

"Bersungguh-sungguhlah dalam menuntut apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah. Apabila kamu tertimpa suatu kegagalan, janganlah kamu berkata: ‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’, tetapi katakanlah: ‘Ini telah ditakdirkan oleh Allah; dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki’; karena ucapan ’seandainya’ akan membuka (pintu) perbuatan syetan."


Kandungan tulisan ini:

   
1. Tafsiran kedua ayat dalam surah Ali Imran. Kedua ayat di atas menunjukkan larangan
    mengucapkan "Andaikata" atau "Seandainya" dalam hal-hal yang telah ditakdirkan oleh Allah
    terjadi, dan ucapan demikian termasuk sifat-sifat munafik; juga menunjukkan bahwa
    konsekwensi iman ialah pasrah dan ridha kepada takdir Allah, serta rasa khawatir seseorang 
    tidak akan dapat menyelamatkan dirinya dari takdir tersebut.

   
2. Dilarang dengan tegas untuk mengucapkan "andaikata" atau "seandainya" apabila mendapat
    suatu musibah atau kegagalan.

   
3. Alasannya, bahwa ucapan tersebut akan membuka pintu perbuatan syetan.

   
4. Bimbingan yang diberikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (ketika menjumpai suatu   
    kegagalan atau mendapat suatu musibah), yaitu supaya mengucapkan perkataan yang baik (dan
    bersabar serta mengimani bahwa apa yang terjadi adalah takdir Allah).

   
5. Diperintahkan supaya bersungguh-sungguh dalam menuntut segala yang bermanfaat (untuk di
    dunia dan di akhirat), dengan senantiasa memohon pertolongan Allah.
6. Dilarang bersikap sebaliknya, yaitu bersikap lemah.

Dikutip dari buku: "Kitab Tauhid" karya
    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan
    Islam, Riyadh 1418 H.

sangat memprihatinkan…

June 16th, 2005 by cariaku

Pengantar Redaksi:

Pada tanggal 16 April 2005 lalu, berlangsung acara bedah buku di UIN
(alias IAIN) Jakarta. Buku yang dibedah berjudul “Ada Pemurtadan di
IAIN” karya Hartono Ahmad Jaiz. Pemrakarsa acara tersebut adalah
anak-anak JIL.

Hartono Ahmad Jaiz, sempat terkejut dengan banyaknya audiens yang
menghadiri acara ini. Jumlahnya seribu lebih. Dan yang lebih
mengagetkan lagi, massa yang banyak itu justru berasal dari luar UIN,
yaitu mereka yang kontra JIL. Tentu saja kehadiran mereka itu membuat
komunitas JIL (dan anak-anak UIN pro JIL) menjadi ciut.

Sayangnya, atau culasnya, moderator yang pro JIL tidak memberi
kesempatan kepada audiens untuk terlibat dalam tanya jawab. Meski
demikian, kedua `pakar’ JIL kedodoran menghadapi Hartono Ahmad Jaiz
dan Muhammad At-Tamimi.

Kehadiran audiens yang kontra JIL dengan jumlah yang tak terduga itu,
nampaknya menunjukkan bahwa generasi muda Islam kita memang masih
banyak yang waras. Kedua, menunjukkan bahwa kontribusi para aktivis
Islam di internet (terutama komunitas PKS dan SHT) yang turut
mensosialisasikan adanya acara tersebut, ternyata cukup efektif.
Ketiga, ini merupakan pertolongan Allah SWT.

Sayangnya, ketika `cendekiawan dan misionaris JIL’ ini keok –bahkan di
sarangnya sendiri– tidak ada satu pun media massa yang
mempublikasikannya. Oleh karena itu, merupakan kewajiban kita untuk
mempublikasikan laporan pandangan mata di bawah ini yang disusun oleh
akh Abu Qori.

Mau Menyanggah Malah Kejeblos

Maksud hati mau menepis dan menyanggah isi buku Ada Pemurtadan di
IAIN, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Para misionaris JIL itu
malah terperosok ke dalam kubangan yang mereka sediakan sendiri. Forum
bedah buku yang semula diharapkan dapat `membantai’ Hartono Ahmad Jaiz
malah menjadi ajang pembuktian bahwa di IAIN memang ada pemurtadan.
Hujjah-hujjah yang diajukan para misionaris JIL itu justru secara
tidak langsung malah meneguhkan adanya proses pemurtadan di IAIN.

Acara bedah buku karya Hartono Ahmad Jaiz itu berlangsung di Masjid
Kampus UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah Ciputat
Jakarta, Sabtu 16 April 2005 bertepatan dengan tanggal 7 Rabi’ul Awwal
1426 Hijriah.

Tak dinyana, acara yang sepi promosi ini ternyata dihadiri 1000-an
peserta, sebagian besar justru berasal dari luar kampus UIN. Sehingga,
perhelatan yang semula dirancang bertempat di Fak Ushuluddin dan
Filsafat, karena tidak mampu menampung audiens, dipindahkan ke Masjid,
khususnya di lantai 2 dan 3.

Pembicara empat orang. Dua pembicara yang membuktikan adanya
pemurtadan di IAIN adalah Hartono Ahmad Jaiz (penulis buku yang
dibedah) dan Muhammad At-Tamimi dari Purwakarta Jawa Barat. Sedangkan
dua pembicara lainnya –yang tampaknya membawa misi untuk menepis
adanya pemurtadan di IAIN namun justru hujjah-hujjahnya menggunakan
pemahaman, materi, dan metode orang murtad– adalah Ulil Abshar Abdalla
kordinator JIL (Jaringan Islam Liberal) dan Abdul Muqsith Ghazali MA
dosen/alumni UIN Jakarta yang juga termasuk penyusun CDL KHI (Counter
Draft Legal Kompilasi Hukum Islam) pimpinan Dr Musdah Mulia yang telah
dicabut Menteri Agama karena isinya meresahkan dan bertentangan dengan
Islam.

Acara berlangsung seru, ada pekik Allahu Akbar dan tepuk tangan
bertalu-talu, meski moderator sudah mengingatkan agar tidak bertepuk
tangan di dalam masjid.

Materi, pemahaman, dan metode yang ditempuh Muqsith dan Ulil justru
menambah bukti bahwa apa-apa yang ditulis di dalam buku Ada Pemurtadan
di IAIN terbitan Pustaka Al-Kautsar Jakarta setebal 280 halaman itu,
memang benar adanya. Karena, hujjah-hujjah dan metode dua pembicara
yang pro IAIN dalam membantah buku itu memang diambil dari materi dan
pemahaman kelompok ataupun tokoh yang sudah dinyatakan kekufurannya
oleh para ulama.

Atau, mereka menggunakan pemahaman mereka sendiri yang tanpa dasar,
lalu sampai berani menolak hadits yang shahih, dan hukum Allah swt
dalam Al-Qur’an. Di samping itu masih disertai dengan
kebohongan-kebohongan untuk memberikan cap-cap sangat buruk kepada
penulis buku. Akibatnya, ketika kebohongan-kebohongan itu dibalikkan
oleh penulis buku, maka terkuaklah kesempurnaan bahwa produk dan
bahkan dosen IAIN yang dijagokan untuk membela IAIN justru lebih buruk
dari yang telah ditulis di buku itu.

Artinya, isi buku Ada Pemurtadan di IAIN tidak lebih seram dibanding
dengan kenyataan yang ditemukan di lapangan, melalui forum bedah buku
tersebut.

Membela pemurtadan dengan pemahaman kufur

Jalan yang ditempuh Muqsith dan Ulil dalam membela IAIN ketika bedah
buku itu adalah:

1. Berbohong dalam rangka memberikan stigma sangat buruk kepada
penulis buku.

2. Membela kemurtadan atau kekufuran dengan faham kekufuran, dan
justru ditawarkan kepada penulis buku agar mempelajarinya. Bahkan
mereka meng-klaim bahwa di IAIN tidak ada pemurtadan, yang terjadi
sesungguhnya dalah proses adalah pluralisasi penafsiran. Dan yang
dijadikan hujjah adalah penafsiran orang-orang yang sudah divonis oleh
para ulama sebagai kafir ataupun zindiq yaitu Ikhwanus Shofa’ dan Ibnu
`Arabi tokoh tasawuf sesat berfaham wihdatul adyan (menyamakan semua
agama) dan wihdatul wujud (satunya alam dengan Tuhan).

3. Melecehkan penulis –yang banyak mengutip ayat-ayat Al-Qur’an
dan hadits Nabi– dengan tuduhan terlalu `memberhalakan’ huruf-huruf
Al-Qur’an. Tuduhan itu didibalikkan oleh penulis: karena penulis
mengikuti Al-Qur’an, maka pada hari Jum’at ia pun melaksanakan shalat
Jum’at; sedangkan Ulil, justru leha-leha berseminar dengan orang
Kristen membahas tentang Tuhan di hari Jum’at dari jam 10 hingga 13
dan tidak shalat Jum’at, tandas Hartono Ahmad Jaiz sambil mengangkat
Majalah Gatra edisi 26 Februari 2005 yang memberitakan bahwa Ulil
tidak Shalat Jum’at.

4. Memberi cap buruk kepada penulis sebagai orang yang melanggar
prinsip-prinsip dasar Al-Qur’an, karena penulis tak membolehkan nikah
beda agama. Penulis menguraikan tentang dosen-dosen IAIN, Dr Zainun
Kamal dan Dr Kautsar Azhari Noer, yang menikahkan wanita muslimah
dengan lelaki Nasrani, dan lelaki muslim dengan wanita Konghucu.
Pernikahan itu bertentangan dengan Al-Qur’an surat Al-Mumtahanah (60)
ayat 10 dan Al-Baqarah (2) ayat 221. Muqsith yang alumni dan dosen UIN
Jakarta justru membela dosen-dosen IAIN yang melanggar ayat-ayat itu
dan malahan memberi cap buruk kepada penulis buku. Maka, Muhammad
At-Tamimi dengan tegas menyatakan penolakan terhadap ayat itu sebagai
sikap orang gila yang berbicara agama tetapi dengan dalih “menurut saya”.

5. Gagal memberikan cap buruk tentang akhlaq penulis dan isi
buku, karena tuduhan-tuduhan Muqsith dan Ulil itu tak sesuai fakta,
maka lebih drastis lagi, Muqsith membela ajakan dzikir dengan lafal
anjing hu akbar, dengan mengemukakan bahwa dzikir dengan lafal anjing
hu akbar pun kalau niatnya… (tidak jelas suara Muqsith karena suara
hadirin gemuruh) maka bisa meninggikan maqamnya. Ungkapan itu
menjadikan para hadirin berteriak gemuruh, menyiratkan kejengkelan
karena justru keluar betul keaslian produk IAIN yang diangkat jadi
dosen ternyata seburuk itu pemikirannya dan keyakinannya. Bagaimana
lagi para mahasiswa asuhannya nanti.

6. Ulil berani menolak hadits shohih, walaupun dirinya mengakui
bahwa hadits itu shohih, hanya karena keberanian menurut dirinya. Ulil
juga mengakui bahwa dirinya menulis di Kompas, tidak ada hukum Tuhan.
Maka Muhammad At-Tamimi menyebut Ulil sebagai orang gila pertama dan
Muqsith orang gila kedua. Karena Allah swt telah menurunkan wahyu
tetapi ditolak dan disebut tidak ada hukum Tuhan. Ini jelas murtad, kufur.

Berbohong atau memutar balikkan

Kebohongan yang dilontarkan, di antaranya Muqsith mengemukakan bahwa
penulis buku ini sampai menulis: Si jompo Sinta Nuriyah. “Penulis ini
akhlaqnya masih akhlaq orang beriman atau tidak. Kalau orang beriman
tentunya tidak menulis seperti itu,” kata Muqsith.

Kebohongan itu dijawab oleh Hartono Ahmad Jaiz (penulis), bahwa di
buku Ada Pemurtadan di IAIN ini tidak ada tulisan yang bunyinya si
jompo. Yang ada hanyalah penjelasan tentang keadaan, yaitu yang sudah
jompo. Lantas, lanjut Hartono, “yang tidak berakhlaq itu yang mengubah
perkataan ini atau siapa?” Dan juga, “orang yang mengajak berdzikir
dengan lafal anjing hu akbar (di IAIN Bandung) malah dibela. Kemudian
orang yang tidak menulis si jompo dikatakan menulis si jompo dan
dianggap tidak berakhlaq. Ini yang tak berakhlaq dan imannya perlu
dipertanyakan itu siapa.”

Kebohongan yang kedua namun tidak sempat dibantah karena sempitnya
waktu, adalah perkataan Muqsith bahwa Imam Ahmad dalam Kitab Mizanul
Kubro (karangan As-Sya’roni) disebutkan, menurut pendapat Imam Ahmad,
aurat wanita itu hanyalah qubul dan dubur (kemaluan depan dan belakang).

Perlu dikemukakan dalam tulisan ini, Muqsith yang dosen dan alumni UIN
Jakarta itu apakah ingin mengkampanyekan agar wanita-wanita di bumi
ini bertelanjang atau bagaimana, yang jelas dia dalam membela IAIN itu
telah menyembunyikan sesuatu.

Dalam kitab Mizanul Kubro itu ada wanita merdeka (al-hurroh) dan
wanita budak (al-ammah). Aurat wanita merdeka adalah seluruh tubuhnya,
kecuali mukanya dan kedua telapak tangannya, menurut pendapat Malik,
Syafi’i, dan Ahmad dalam salah satu dari dua riwayatnya. Menurut Abu
Hanifah, seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali mukanya, dua
telapak tangannya, dan dua telapak kakinya. Riwayat lain dari Ahmad,
(seluruh tubuh wanita adalah aurat) kecuali mukanya saja. (Al-Mizanul
Kubro Juz 1, halaman 170, cetakan I, Darul Fikr Beirut, dalam hal
syarat sahnya sholat tentang menutup aurat).

Aurat wanita budak (al-ammah) dalam sholat adalah antara pusarnya dan
lututnya seperti aurat laki-laki. Ini menurut pendapat Malik, Syafi’i,
dan salah satu riwayat dari Ahmad; dan riwayat yang lain bahwa
auratnya (wanita budak/al-ammah) adalah qubul dan dubur saja. (ibid).
Dalam Kitab Mizanul Kubro itu dijelaskan, yang diamalkan oleh salafus
sholih adalah yang pertama (aurat budak wanita, antara pusar dan
lutut) karena tidak adanya syahwat untuk melihat budak wanita di luar
sholat, lebih-lebih ketika sholat. (ibid).

Imam Ahmad dalam Kitab Mizanul Kubro bab shalat itu dikutip
pendapatnya bahwa aurat wanita merdeka (al-hurrah) adalah seluruh
tubuhnya kecuali muka dan dua telapak tangannya atau bahkan seluruh
tubuh kecuali muka saja.

Perlu dijelaskan kebohongan Muqsith dengan kenyataan, bahwa wanita
sekarang, pengertiannya ya wanita yang disebut al-hurroh itu. Lalu kok
bisa-bisanya Muqsith Ghozali dosen dan alumni UIN Jakarta ini
mengatakan bahwa Imam Ahmad dalam Kitab Mizanul Kibro, berpendapat
bahwa aurat wanita itu hanyalah qubul dan dubur. Itulah cara berbohong
untuk mengkampanyekan agar wanita sekarang yang sebagian mereka sudah
memperlihatkan pusarnya itu agar lebih bertelanjang lagi.

Kebohongan ketiga, Muqsith menganggap Hartono Amad Jaiz melanggar
prinsip-prinsip dasar Al-Qur’an, karena Hartono mengharamkan nikah
beda agama.

Perkataan itu sendiri sudah menyembunyikan sesuatu. Dalam buku itu
sudah ditulis, yang dipersoalkan adalah wanita muslimah dinikahi
lelaki kafir, Non Islam,Yahudi-Nasrani dan lainnya. Juga lelaki Muslim
menikahi wanita Konghucu. Lalu Muqsith mengatakan bahwa tidak ada ayat
yang mengharamkan nikah beda agama. Itu juga menyembunyikan ayat,
hingga dibantah dengan seru oleh seorang pemuda/mahasiswa secara
spontan dengan mengacungkan Al-Qur’an.

Kalau Muqsith tidak menolak Al-Qur’an, tentunya mau mengakui, Ayatnya
sudah jelas, QS 60: 10, QS 2: 221, dan tentang kafirnya Ahli Kitab
dalam Surat Al-Bayyinah ayat 6. Dengan cara menyembunyikan ayat,
hingga justru menghalalkan nikah beda agama (seperti yang telah
disebutkan itu) adalah satu bukti justru adanya faham yang dihembuskan
dari UIN Jakarta adalah yang menentang ayat Al-Qur’an itu.

Membela kekufuran dengan kekufuran

Lebih nyata lagi ketika Muqsith membela IAIN dengan faham kekufuran.
Yaitu kilah bahwa IAIN tidak mengadakan pemurtadan tetapi pluralisasi
penafsiran. Lalu yang diangkat sebagai contoh adalah faham Ikhwanus
Shofa’ yang tidak perlu melaksanakan yang fardhu-fardhu/wajib-wajib
dan cukup dengan bertasbih.

Hartono Ahmad Jaiz membalikkan kepada Muqsith, justru faham yang tidak
perlu mengerjakan yang fardhu-fardhu/wajib-wajib itulah yang
sebenar-benarnya kekafiran. Dan itu sudah dikemukakan kekafirannya
dalam Kitab Tafsir Al-Qurthubi dan Imam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’
Al-Fatawa.

Yang dimaksud Hartono itu adalah apa yang ditulis Imam Al-Qurthubi
yang dimulai dengan menukil ulasan gurunya, al-Imam Abu al-’Abbas,
mengenai golongan ahli kebatinan yang dihukumi sebagai zindiq yaitu:
“Mereka itu berkata: Hukum-hukum syara’ yang umum adalah untuk para
nabi dan orang awam. Adapun para wali dan golongan khusus tidak
memerlukan nas-nas (agama), sebaliknya mereka hanya dituntut dengan
apa yang terdapat dalam hati mereka. Mereka berhukum berdasarkan apa
yang terlintas dalam fikiran mereka.” Golongan ini juga berkata: “Ini
disebabkan kesucian hati mereka dari kekotoran dan keteguhannya maka
terjelmalah kepada mereka ilmu-ilmu ilahi, hakikat-hakikat ketuhanan,
mereka mengikuti rahasia-rahasia alam, mereka mengetahui hukum-hukum
yang detil, maka mereka tidak memerlukan hukum-hukum yang bersifat
umum, seperti yang berlaku kepada Khidir. Mencukupi baginya (Khidir)
ilmu-ilmu yang terbuka (tajalla) kepadanya dan tidak memerlukan apa
yang ada pada kefahaman Musa.” Golongan ini juga menyebut: “Mintalah
fatwa dari hatimu sekalipun engkau telah diberikan fatwa oleh para
penfatwa.”

Selanjutnya al-Qurtubi mengulas dakwaan-dakwaan ini dengan berkata:
“Kata guru kami r.a.: Ini adalah perkataan zindiq dan kufur,
dibunuhlah siapa pun yang mengucapkannya dan dia tidak diminta
taubatnya, karena dia telah ingkar terhadap apa yang diketahui dari
syariat. Sesungguhnya Allah telah menetapkan jalan-Nya dan
melaksanakan hikmah-Nya bahwa hukum-hukum-Nya tidak diketahui
melainkan melalui perantaraan rasul-rasul yang menjadi para utusan
antara Allah dan makhluk-Nya. Mereka adalah penyampai risalah dan
perkataan-Nya serta pengurai syariat dan hukum-hukum. Allah memilih
mereka untuk itu dan mengkhususkan urusan ini hanya untuk mereka.”

æÇÌÊãÇÚ ÇáÓáÝ æÇáÎáÝ Úáì Ãä áÇ ØÑíÞ áãÚÑÝÉ ÃÍßÇã Çááå ÊÚÇáì ÇáÊí åí
ÑÇÌÚÉ Åáì ÃãÑå æäåíå æáÇ íÚÑÝ ÔíÁ ãäåÇ ÅáÇ ãä ÌåÉ ÇáÑÓá Ýãä ÞÇá Åä
åäÇß ØÑíÞÇ ÂÎÑ íÚÑÝ ÈåÇ ÃãÑå æäåíå ÛíÑ ÇáÑÓá ÈÍíË íÓÊÛäì Úä ÇáÑÓá Ýåæ
ßÇÝÑ íÞÊá æáÇ íÓÊÊÇÈ æáÇ íÍÊÇÌ ãÚå Åáì ÓÄÇá æáÇ ÌæÇÈ

“Telah menjadi ijma’ salaf dan khalaf bahwa tidak ada jalan mengetahui
hukum-hukum Allah yang berhubungan dengan suruhan dan larangan-Nya
walaupun sedikit, melainkan melalui para Rasul. Maka siapa yang
berkata “Disana ada cara lain untuk mengetahui suruhan dan larangan
Allah tanpa melalui para rasul atau tidak memerlukan para rasul” maka
dia adalah kafir, dihukum bunuh tidak diminta bertaubat, dan tidak
diperlukan untuk tanya jawab dengannya (al-Jami’ li Ahkam al-Quran
jilid 11, halaman 40-41, cetakan Dar al-Fikr, Beirut).

Gejala Pemurtadan di IAIN

Hartono Ahmad Jaiz menguraikan gejala-gejala pemurtadan di AIN, di
antaranya buku Harun Nasution untuk IAIN berjudul Islam Dipandang dari
Berbagai Aspeknya menyatakan bahwa agama monotheisme itu Islam,
Kristen (Protestan dan Katolik), dan Hindu. Juga buku Sejarah
Pembaharuan Pemikiran Islam tulisan Harun Nasution untuk IAIN diantara
isinya menyebut Rifaat At-Tahtawi (Mesir) sebagai pembaharu, dan
bahkan dalam makalah dosen IAIN di bawah bimbingan Harun Nasution di
SPS (Studi Purna Sarjana) di IAIN Jogja 1977, Rifaat At-Tahtawi yang
menghalalkan dansa-dansa laki perempuan disebut sebagai pembuka pintu
ijtihad. Ini adalah penyesatan. Mana ada pembaru dalam Islam
menghalalkan yang haram. Padahal dalam hadits, ada potensi zina bagi
mata, tangan, mulut, hati dan dibenarkan atau dibohongkan oleh farji/
kemaluan kata Hartono.

Hal itu dibantah Abdul Muqsith Ghozali dengan kitab I’anatut Tholibin
terbitan Toha Putra Semarang, dengan dibacakan tentang definisi zina,
lalu Muqsith mengatakan, kalau hasyafah (kemaluan lali-laki) ditekuk
maka bukan zina. Begitu juga dengan tangan.

Hartono menjawab, “bagaimana ini, tentang zina, tangan punya potensi
zina itu saya mengutip hadits Nabi saw. Kenapa hadits Nabi dibantah
pakai kitab I’anatut Tholibin? Ya seperti inilah keluaran dari IAIN,”
tegas Hartono dengan menuding Muqsith yang di sebelah kanannya.

Attamimi dengan suara lantang menantang Ulil Abshar Abdalla yang
menolak hadits, yang walaupun shohih di kitab Bukhori, namun menurut
Ulil tidak sesuai, maka ulil menolaknya. Contohnya hadis tentang orang
sholat jadi batal karena adanya yang lewat yaitu anjing, orang
perempuan, dan khimar/keledai. Kata Ulil, “di sini perempuan disamakan
dengan anjing dan keledai. Jadi saya tolak, walaupun itu ada di Kitab
Shohih Bukhori,” kata Ulil.

Kata At-Tamimi, “apakah anda ini ahli hadits? Apa keahlian anda. Dalam
hal ilmu agama ini tidak bisa hanya dengan perkataan `pendapat saya’.
Di ilmu teknik dunia saja tidak bisa dengan `pendapat saya’ . Memang
anda ahli apa? Apakah ahli hadits? Saya tantang anda bicara tentang
hadits. Bahkan kumpulkan seluruh orang JIL, cukup saya hadapi
sendirian. Tidak bisa bicara agama kok `menurut saya’, `menurut saya’.
Bukan hanya perempuan yang disamakan dengan binatang, semua laki-laki
yang tidak percaya kepada Al-Qur’an dan As-sunnah seperti anda ini
dinyatakan dalam Al-Qur’an seperti binatang,” seru At-Tamimi dengan
lantang, disambut dengan suara gemuruh hadirin.

Dua orang yang membela IAIN dan ingin merobohkan fakta pada buku Ada
Pemurtadan di IAIN itu setelah gagal memberikan cap-cap buruk karena
dibalikkan dengan telak, maka justru menolak hukum Allah (sebagian
ditentang, dan bahkan dinyatakan tidak ada hukum Tuhan), dan menolak
hadits walaupun diakui shahih.

Di situ justru pada dasarnya mereka menampakkan tambahan bukti yang
ada pada ungkapan-ungkapan mereka sebagai alumni, dosen dan pembela
IAIN bahwa sebenarnya IAIN memang jelas ada pemurtadan. Jadi, mereka
mau menepis Adanya pemurtadan di IAIN tetapi justru terperosok pada
penguatan bahwa memang benar ada pemurtadan di IAIN secara sistematis.
Itu tentu saja sangat berbahaya.

Buku Ada Pemurtadan di IAIN dibedah pertama kali di Islamic Book Fair
di Istora Senayan Jakarta, Ahad 27 Maret 2005. Pembicara Dr Roem Rowi
dosen pasca sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, dosen tafsir; dan
penulis buku Hartono Ahmad Jaiz. Hadirin sekitar 500 orang. Dr Roem
Rowi mengakui, di IAIN dia mengajar tafsir, namun mahasiswanya dirusak
oleh pemikiran-pemikiran yang diajarkan dalam materi pemikiran Islam
(dan sejarah kebudayaan Islam), yang itu justru materi kuliah dasar,
semua mahasiswa harus ikut.

Sehingga, ketika ditanya peserta bedah buku, ke mana untuk mendidikkan
anak di perguruan tinggi yang islami, Dr Roem Rowi tidak memberikan
rekomendasi, hanya menunjuk di antaranya Universitas Islam
Internasional di Malaysia. Sedangkan ketika ditanya tentang kurikulum,
seberapa peran menteri agama dalam membuat kurikulum di IAIN, Roem
Rowi menjawab, menteri agama masa lalu ya hanya mengikuti Dr Harun
Nasution. “Seakan perkataan Harun Nasution itu qoululloh (firman
Alloh) bagi menteri agama yang lalu,” ujar Roem Rowi yang meraih gelar
doktornya dari Universitas al-Azhar Mesir ini.

Disebut Ada Pemurtadan di IAIN, menurut buku itu, karena kurikulumnya,
materi kuliahnya, sistem pengajarannya, cara mengajarnya, dan
dosen-dosennya banyak yang tidak sesuai dengan sistem pemahaman Islam
yang benar. Tidak merujuk kepada Al-Qur’an, As-Sunnah, dengan manhaj
salafus shalih. Tetapi yang dijadikan mata kuliah dasar justru sejarah
pemikiran Islam dan sejarah kebudayaan Islam, yang semuanya bukan
dasar Islam, dan disampaikan tidak secara ilmu islami, tidak merujuk
kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan sistem pemahaman yang benar.
Diajarkan secara liar, yaitu tanpa sanad (pertalian riwayat) hingga
boleh berkomentar apa saja sampai menghina para sahabat sekalipun.

Akibatnya, alumni IAIN tidak bisa membedakan antara madzhab-madzhab
(yang perbedaannya itu dalam wilayah furu’/ cabang, jadi boleh saja)
dengan sekte-sekte sesat (firoq dhollah) yang sudah berbeda dengan hal
pokok yang benar. Bahkan sampai tak bisa membedakan antara mukmin
dengan kafir, ketika diajari tasawuf falsafi dan apa yang disebut
filsafat Islam (semuanya dalam materi kuliah sejarah pemikiran Islam
dalam mata kuliah dasar). Akibatnya, mereka menyamakan semua agama.
Itulah sebenar-benarnya pemurtadan secara sistematis lewat jalur
perguruan tinggi Islam se-Indonesia baik negeri maupun swasta. Maka
kurikulum, sistem pengajaran, materi, metode, dan dosen pengajarnya
perlu ditinjau ulang. Pembelajaran dosen-dosen IAIN ke Barat untuk
studi Islam pun perlu dihentikan, menurut penulis buku, karena itu
menjadi sumber utama pemurtadan tersebut.

Usai bedah buku di UIN Jakarta, hadirin pun berjama’ah shalat dhuhur,
tanpa ada dosen ataupun mahasiswa UIN yang maju jadi imam, hingga
Ustadz Mustofa Aini seorang hadirin alumni Universitas Islam Madinah
maju untuk mengimami setelah agak lama ditunggu-tunggu tak ada yang
maju. Ulil, Muqsith dan sebagian besar panitia dari BEM Fak
Usuhuluddin dan Filsafat UIN Jakarta tidak tampak ikut shalat
berjama’ah. Mereka berada di mihrab sebelah imaman. Kemudian Ulil
diiringi para panitia turun dan pulang setelah hadirin yang shalat
berjama’ah telah bubar pulang.

“Kampus Islam tidak mencerminkan Islam,” keluh di antara yang hadir.